Air minum dalam kemasan botol sering kali dianggap lebih aman daripada air keran, meskipun standar pengujian tap water sangat ketat. Berbagai iklan juga seringkali mempromosikan air minum dalam kemasan sebagai sehat, murni, dan aman, meski bukti ilmiah menunjukkan sebaliknya.
Menurut Profesor Muhammad Wakil Shahzad dari Northumbria University, air minum dalam kemasan botol tidak selalu seaman yang banyak orang kira. Banyak penelitian telah menunjukkan risiko kesehatan dan lingkungan yang dikandung air minum dalam kemasan, seperti tingkat kontaminasi bakteri yang tinggi. Berbeda dengan anggapan masyarakat, tap water seringkali diawasi dan diatur lebih ketat daripada air minum dalam kemasan.
Penelitian telah mengidentifikasi kontaminan dalam air minum kemasan, seperti mikroplastik, residu kimia, dan bakteri. Bahkan, air minum dalam kemasan seringkali mengandung konsentrasi mikroplastik yang lebih tinggi dibanding tap water, yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan. Botol plastik itu sendiri dapat melepaskan bahan kimia berbahaya, seperti antimon, ftalat, dan senyawa mirip bisfenol ke air.
Selain efek negatif bagi kesehatan, konsumsi air minum dalam kemasan juga memberikan dampak buruk bagi lingkungan, dengan sekitar satu juta botol plastik dibeli setiap menit di seluruh dunia. Sebaliknya, tap water di banyak negara memiliki standar pengujian dan pengawasan yang lebih ketat, serta mengandung mineral yang bermanfaat.
Meskipun air minum kemasan tidak selalu lebih bersih atau aman dibandingkan tap water, peran pentingnya tetap ada dalam situasi darurat atau ketika tap water tidak aman dikonsumsi. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko dari kedua sumber air minum ini.
