Di tengah tekanan ekonomi yang belum benar-benar reda, pujian datang dari Senayan untuk duet Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar, Erik Hermawan, menilai keduanya tampil sebagai sosok yang paling terlihat sigap dalam merespons situasi ekonomi nasional yang sedang tidak mudah.
Tekanan Ekonomi Masih Terasa
Erik menyebut perekonomian Indonesia tengah menghadapi tekanan dari dalam maupun luar negeri. Ia menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebagai sinyal bahwa tantangan ekonomi belum selesai.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah yang lebih solid dari pemerintah agar gejolak tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Dalam pandangannya, koordinasi antarpejabat ekonomi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik dan pasar.
Apresiasi untuk Langkah Bahlil dan Purbaya
Erik secara khusus mengapresiasi kerja sama Bahlil dan Purbaya dalam membaca situasi dan mengambil langkah yang dianggap bisa meredam tekanan. Ia bahkan menilai keduanya sebagai figur yang paling menonjol dalam upaya menghadapi situasi krisis saat ini.
Pujian itu tidak hanya diarahkan pada respons kebijakan, tetapi juga pada kesan bahwa keduanya mampu memberi sinyal ketenangan di tengah pasar yang masih sensitif terhadap berbagai perkembangan ekonomi.
BBM Subsidi Jadi Penyangga Psikologis Publik
Di sisi lain, Erik menyinggung janji Menteri ESDM bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun. Baginya, kepastian ini penting karena memberi rasa tenang kepada masyarakat yang sedang berhadapan dengan biaya hidup yang ketat.
Ia juga menilai strategi pemerintah yang disebut sebagai “Ngebor ke Dalam” perlu dicermati karena berpotensi memunculkan paradoks kebijakan. Meski begitu, fokus utamanya tetap pada kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi agar tekanan yang ada tidak semakin membebani rakyat.
Dalam keterangannya, Erik menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja setengah hati ketika indikator ekonomi masih memberi alarm. Menurutnya, stabilitas rupiah, pasar saham, dan kepastian harga kebutuhan energi harus dijaga bersamaan agar respons negara tidak sekadar reaktif, melainkan benar-benar menahan laju ketidakpastian.
