10 Persen Konsumen Pertamax Diproyeksi Pindah ke Pertalite Menyusul Kenaikan Harga
Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan bahwa sebanyak 10 persen dari konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) akan beralih ke Pertalite sebagai respons terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut.
Harga Pertamax Naik, Konsumen Beralih ke Pertalite
Diketahui, harga BBM jenis Pertamax yang sebelumnya sebesar Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan harga Pertalite tetap stabil di level Rp10.000 per liter. Yayan menjelaskan bahwa selisih harga Pertamax dan Pertalite mencapai Rp6.250 per liter, terlebar dalam sejarah.
Menurut Yayan, apabila harga Pertamax terus naik, kemungkinan konsumen akan berpindah ke Pertalite yang lebih murah. Belajar dari pengalaman saat harga Pertamax naik pada April 2022, sekitar sepertiga dari sisa kuota Pertalite diprediksi akan terpakai akibat perpindahan konsumen.
Pengaruh Kenaikan Harga BBM terhadap Masyarakat
Yayan juga menyebutkan bahwa kenaikan harga Pertamax akan berdampak pada berbagai lapisan masyarakat. Pemilik mobil yang biasanya mengisi 100 liter Pertamax per bulan harus menyiapkan tambahan biaya sekitar Rp395 ribu per bulan, sementara pengendara motor yang menggunakan 30 liter Pertamax sebulan akan menambah biaya sekitar Rp119 ribu.
Penyebab utama dari migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite adalah selisih harga yang cukup signifikan antara keduanya, serta ketersediaan kuota Pertalite yang cukup untuk menampung perpindahan tersebut.
Dengan adanya peningkatan harga Pertamax, masyarakat dari berbagai kelompok ekonomi di Indonesia terdampak secara berbeda. Yayan memperkirakan bahwa kelompok rumah tangga menengah kemungkinan akan beralih ke Pertalite, sementara kelompok terkaya akan menjadi salah satu yang terbesar terdampak akibat kenaikan harga BBM tersebut.
