Terkini, konsep “revenge saving” tengah menjadi tren baru di dunia keuangan. Dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global dan kekhawatiran akan dampak pandemi, revenge saving muncul sebagai respons terhadap gaya hidup yang konsumtif di masa lalu. Sebaliknya dengan revenge spending, dimana seseorang mengeluarkan uang secara besar-besaran setelah pembatasan keuangan akibat pandemi, revenge saving justru melibatkan menabung dalam skala besar sebagai bentuk pengendalian terhadap pengeluaran. Fenomena ini terutama diminati oleh generasi muda dan pekerja kota yang ingin memperbaiki kebiasaan finansial mereka dengan membatasi pengeluaran dan meningkatkan simpanan. Tren ini sedang marak di Amerika Serikat dan mulai menyebar ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Revenge saving, seperti yang dilansir dari Yahoo Finance, adalah kecenderungan untuk menabung secara agresif sebagai bentuk koreksi atas keputusan finansial yang kurang tepat. Banyak orang mulai menyadari pentingnya memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk mengantisipasi situasi tak terduga di masa depan. Hal ini tidak hanya sebatas menabung, tetapi lebih kepada mengubah gaya hidup agar lebih hemat, dengan menghindari pengeluaran yang tidak perlu seperti hiburan, belanja impulsif, dan perjalanan liburan.
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya tren revenge saving, mulai dari penyesalan atas pembelanjaan yang berlebihan di masa lalu, hingga kesadaran akan pentingnya dana darurat sebagai persiapan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Konten yang tersebar di media sosial juga ikut mempengaruhi tren ini, dengan banyaknya narasi tentang minimalisme, frugal living, dan financial freedom. Bagi yang terlibat dalam revenge saving, mereka akan mengurangi pengeluaran hiburan, menabung lebih dari 30-50% dari penghasilan, cemas jika tidak bisa menabung dalam jumlah besar, dan lebih memilih transportasi umum daripada layanan ride-hailing.
Namun, penting juga untuk melakukannya dengan bijak. Ada beberapa tips untuk melakukan revenge saving secara sehat, seperti otomatisasi tabungan, menerapkan prinsip “no-buy month”, mengurangi langganan digital yang tidak perlu, menetapkan tujuan finansial yang realistis, dan tetap menjaga keseimbangan hidup antara menabung dan bersosialisasi. Meskipun revenge saving dapat memberikan stabilitas keuangan pribadi dan ketahanan terhadap gejolak ekonomi, namun jika berlebihan bisa berdampak negatif secara psikologis dan sosial. Dalam situasi ekonomi yang tidak pasti, strategi ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun keamanan finansial jangka panjang, dengan harapan bukan hanya sebagai tren sesaat, tapi juga sebagai gaya hidup keuangan yang berkelanjutan di masa depan.
