PABST, trio garage-rock asal Jerman, baru saja merilis album terbaru mereka yang berjudul ‘This Is Normal Now’. Album ini tidak hanya mencerminkan kondisi sosial saat ini, tetapi juga memberikan ruang bagi pendengar untuk merasakan sesuatu yang berbeda. Dalam proyek terbarunya, PABST mengambil sudut pandang yang lebih tajam, menyoroti kemunculan kembali ideologi sayap kanan dan populisme yang semakin marak dalam percakapan publik.
Menurut Tilman Kettner, basis dari band ini, beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bagaimana hal-hal yang dulu dianggap mustahil bisa berubah menjadi sesuatu yang umum terjadi, baik dari sisi positif maupun negatif. Pandangan ini menjadi fondasi utama dari album ini. Dibuka dengan lagu “Limbo No.5,” album ini menunjukkan kematangan baru dari karakter garage-rock mereka. Mereka juga mengambil inspirasi dari figur-figur pop eksperimental seperti Charli XCX dan Sophie.
Dalam album ini ada beberapa kolaborasi dengan musisi lain yang memberikan warna tambahan. Kolaborasi dengan Shane Parson dari DZ Deathrays di lagu “I Felt All There is to Feel” memberikan dimensi kasar, sementara Kolaborasi dengan Katja Seiffert dari Blush Always di lagu “Twenty Three” menambahkan nuansa nostalgia. Dari segi tema, album ini mengkritik kapitalisme dan bergerak dalam orbit ide-ide kiri.
Album ini juga memuat lagu-lagu lain seperti “Heavy Metal Junk Island”, “Song on the Radio”, dan single utama “Big Big Heart” yang menonjol dalam aransemen. Dengan track penutup yang lebih senyap, album ini memberi jeda setelah lagu-lagu yang intens. ‘This Is Normal Now’ hadir sebagai penyegaran modern dalam genre mereka dan meninggalkan penasaran tentang perkembangan kreativitas PABST di masa mendatang.
