Soy Kongo merilis lagu “Jelaga” sebagai bagian dari album “Sekap”. Lagu ini menjadi refleksi tentang perubahan tak terhindarkan dalam kehidupan dan lingkungan. “Jelaga” menggambarkan kondisi yang menetap, menyimpan kenangan dari proses panjang yang telah berlangsung sebelumnya. Lagu ini menjadi residu dari perubahan yang telah terjadi, menjadi saksi yang menghadirkan jejak perubahan dengan konsisten.
Dalam video musik “Jelaga”, Soy Kongo menghadirkan visual yang menunjukkan ruang sebagai entitas yang terus bergerak dan berubah. Video ini memperlihatkan pergeseran lanskap yang tidak pernah stabil dan terus berubah dalam format gambar berwarna. Pendekatan visual menggunakan lapisan-lapisan gambar yang bertabrakan, merepresentasikan perubahan lanskap yang seringkali bertumpuk dan tidak linier.
Dengan konsep “Sekap”, video musik ini menyampaikan pesan bahwa ruang bukan lagi merupakan wilayah bebas dan utuh, melainkan terus dibentuk oleh intervensi berulang. “Jelaga” dalam konteks ini bukanlah objek visual dominan, melainkan posisi konseptual yang merekam perubahan dalam lanskap. Video musik ini berfungsi sebagai arsip perubahan, mencatat tabrakan antara ruang, waktu, dan ingatan, menyimpan jejak perubahan dalam kondisi pasca diubah yang terus bergerak dan terfragmentasi.
