Harga BBM Berpotensi Tetap Tinggi Meski Konflik Iran Mereda
Jakarta, VIVA – Meskipun konflik di Iran mulai mereda, analis memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan segera kembali normal. Pasar minyak global masih dalam tahap pemulihan yang membutuhkan waktu panjang, terutama karena adanya gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz Berdampak pada Harga Minyak dan Bensin
Selat Hormuz merupakan jalur vital untuk pengiriman minyak dunia dari kawasan Teluk Persia. Penutupan jalur ini akibat konflik telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan bensin secara global. Data dari AAA menunjukkan bahwa harga bensin reguler di Amerika Serikat mencapai US$4,54 per galon atau sekitar Rp77.180 per galon dengan kurs Rp17.000 per dolar AS.
Proses Pemulihan Harga BBM Diprediksi Berlangsung Lama
Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, menyatakan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka kembali, proses penurunan harga BBM akan memakan waktu yang cukup lama. Perkiraan pemulihan penuh harga BBM baru akan terjadi pada awal hingga pertengahan tahun 2027. Hal ini disebabkan oleh distribusi minyak dari Timur Tengah yang belum sepenuhnya pulih setelah konflik.
Menurut analis bahan bakar dari S&P Global Energy, Rob Smith, lalu lintas pengiriman energi di Selat Hormuz tidak akan kembali normal secara langsung. Bahkan setelah konflik berakhir, diperlukan waktu beberapa bulan sebelum lalu lintas melalui Selat Hormuz mencapai tingkat sebelum terjadi perang.
Konsultan energi Rystad Energy memperkirakan bahwa proses pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dalam 30 hari saja sudah termasuk skenario optimistis. Namun, pemulihan volume pengiriman minyak baru diperkirakan akan terlihat pada Juni 2026.
Faktor stok lama yang dibeli pada saat harga minyak tinggi juga turut memengaruhi harga BBM. Pola “rocket and feathers” menyebabkan harga BBM naik cepat saat harga minyak naik, namun turun perlahan ketika harga minyak mengalami penurunan.
