Yogyakarta kembali melahirkan karya rock yang lahir dari semangat menjaga denyut musik klasik tetap relevan di masa kini. Kali ini datang dari Japa Mantra, unit rock yang berdiri pada 2024 dan kini resmi memperkenalkan album penuh perdana mereka bertajuk ‘Mantra I’. Album yang telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak 8 Juni 2026 ini memuat sepuluh lagu yang memadukan energi rock lawas dengan berbagai isu yang masih terasa relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Rock Klasik dengan Pesan Aktual
Bagi Japa Mantra, ‘Mantra I’ merupakan rangkaian cerita yang mencerminkan berbagai kegelisahan, pengamatan, dan refleksi yang mereka temui di sekitar mereka. Setiap trek membawa sudut pandang yang berbeda, mulai dari kritik terhadap berbagai persoalan sosial dan pemerintahan, pencarian makna hidup, hubungan manusia dengan sesamanya, hingga relasi spiritual yang lebih personal. Narasi tersebut mengalir sepanjang album tanpa terasa menggurui.
Pengaruh Rock Klasik
Sejak awal, Japa Mantra dikenal sebagai kelompok yang sangat terpengaruh oleh karakter rock dari era 1970-an dan 1980-an. Pengaruh ini sangat terasa dalam ‘Mantra I’. Alih-alih mengikuti tren produksi modern yang bersih dan digital, mereka memilih untuk mempertahankan nuansa organik yang mengingatkan pada masa kejayaan rock Indonesia. Jejak inspirasi dari nama-nama besar seperti AKA, SAS, dan God Bless era awal dapat ditemukan dalam banyak bagian album ini.
Ragam Element Rock dalam Satu Album
Perpaduan dari genre rock yang berbeda membuat ‘Mantra I’ terasa seperti perjalanan melintasi berbagai wajah rock dalam satu album. Ada momen yang penuh ledakan energi, ada pula bagian yang lebih kontemplatif dan memberi ruang bagi pendengar untuk menyerap pesan yang disampaikan. Dengan menambahkan dua nomor rock ballad, Japa Mantra memberi keseimbangan dalam keseluruhan album.
Perjalanan menuju ‘Mantra I’ bukanlah sesuatu yang instan. Sebelum merilis album debut ini, Japa Mantra terlebih dahulu memperkenalkan diri melalui maxi single “Sublimasi Gradasi” yang dirilis pada tahun 2024. Setahun setelahnya, mereka melanjutkan dengan EP berjudul ‘Balada’ yang hadir dalam format kaset fisik.
Melalui ‘Mantra I’, Japa Mantra memperlihatkan bahwa musik rock masih memiliki ruang untuk berbicara tentang banyak hal. Album ini menyajikan kombinasi antara energi, kritik sosial, spiritualitas, dan humanisme dalam kemasan yang tetap setia pada akar rock klasik.
Diperkuat oleh Lukman Marjabinie (vokal), Gigih Prayogo (gitar), Danudjaditya (gitar), Bintang Renjana (bass), dan Bable Sagala (drum), Japa Mantra tampil sebagai kelompok dengan visi yang jelas mengenai musik yang ingin mereka sampaikan. Mereka tidak hanya ingin menghadirkan rock sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan pemikiran, kegelisahan, dan refleksi terhadap berbagai peristiwa di sekitar mereka.
