Riwayat Surplus Neraca Perdagangan Indonesia di Paruh Pertama Tahun 2026
Pada Juli 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia masih mengalami surplus sebesar US$0,12 miliar, sehingga membuat kumulatif periode Januari-Juli 2026 mencapai US$3,70 miliar. Capaian ini menjadi prestasi yang dibanggakan, yang didorong oleh beberapa faktor utama.
Kinerja Ekspor dan Impor Indonesia
Meskipun kondisi ekonomi global tidak stabil, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor ini didominasi oleh sektor nonmigas yang tumbuh sebesar 5,21 persen menjadi US$160,01 miliar. Sementara itu, sektor industri pengolahan menyumbang nilai ekspor terbesar dengan jumlah US$137,26 miliar, naik 7,16 persen.
Dari sisi impor, nilai impor Indonesia juga meningkat, mencapai US$163,33 miliar, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh naiknya impor barang baku/penolong sebesar 20,42 persen, impor barang modal sebesar 20,00 persen, dan impor barang konsumsi sebesar 16,03 persen.
Negara Tujuan Utama Ekspor dan Asal Utama Impor
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, dengan masing-masing nilai ekspor yang signifikan. Dari sisi impor, Tiongkok tetap menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia, diikuti oleh Jepang dan Australia dengan kontribusi yang cukup besar.
Surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari-Juli 2026 berasal dari beberapa komoditas utama, seperti lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel, barang daripadanya, serta alas kaki.
