Mi instan dapat menjadi pilihan praktis ketika waktu memasak terbatas. Namun, menjadikannya menu harian tidak disarankan karena makanan ini cenderung tinggi natrium, lemak, dan energi, sementara kandungan serat, vitamin, mineral, serta proteinnya relatif terbatas.
Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, mengatakan mi instan tetap boleh dikonsumsi, tetapi tidak setiap hari. Frekuensinya perlu disesuaikan dengan makanan lain yang dikonsumsi dalam sehari.
“Kita boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lainnya,” kata Juwalita kepada ANTARA.
Natrium menjadi perhatian utama
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah kandungan garam atau natrium. Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, dalam keterangan kepada ANTARA pada Februari 2026, menyebut mi instan rebus umumnya mengandung lebih dari 1.000 miligram natrium dalam satu bungkus. Jumlah itu sudah mengambil porsi besar dari batas asupan natrium harian.
Asupan natrium yang terlalu tinggi secara terus-menerus menjadi perhatian, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang sensitif terhadap natrium. Juwalita mengingatkan, mi instan sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan olahan lain yang juga cenderung tinggi garam, seperti sosis dan bakso.
Karena itu, konsumen perlu membaca label kandungan gizi pada kemasan. Jika pada hari yang sama sudah menyantap makanan tinggi garam, jumlah makanan tinggi natrium lainnya perlu dibatasi.
Perhitungkan mi sebagai sumber karbohidrat
Mi instan juga tidak tepat dijadikan satu-satunya sumber makanan. Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa mi instan termasuk kelompok makanan pokok, seperti nasi, roti, bihun, umbi-umbian, dan sereal.
Menurut Fitri, satu bungkus mi instan tanpa minyak memiliki nilai gizi yang kurang lebih setara dengan 150 gram nasi. Artinya, orang yang makan mi instan perlu memperhitungkan konsumsi makanan pokok lain agar asupan energi dan karbohidrat tidak berlebihan.
Dengan pertimbangan tersebut, persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidak mengonsumsi mi instan, melainkan bagaimana makanan itu ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan.
Cara membuat mi instan lebih seimbang
Jika ingin mengonsumsi mi instan, makanan tersebut sebaiknya dilengkapi sayuran, seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli. Tambahan itu dapat membantu meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral. Sumber protein, misalnya telur, tahu, atau tempe, juga dapat ditambahkan.
Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Luciana Sutanto, mengingatkan agar penggunaan bumbu tidak berlebihan.
“Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan … tentu akan menimbulkan masalah kesehatan,” kata Luciana kepada ANTARA.
Luciana juga menyarankan mi dimasak sesuai petunjuk pada kemasan, lalu dilengkapi sayuran dan sumber protein agar komposisi gizinya lebih lengkap. Dengan begitu, mi instan dapat dikonsumsi sesekali tanpa dijadikan menu harian.
