Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates dan miliarder dunia, mengingatkan tentang bahaya utang yang terus membengkak dan dapat mendorong negara ke jurang kebangkrutan. Dalio menyoroti utang nasional Amerika Serikat (AS) yang mencapai US$38.019.813.354.700 pada Oktober 2025. Dalam unggahannya di platform X, Dalio menekankan pentingnya mempelajari pola berulang dalam sejarah, di mana terlalu banyak utang saat ekonomi melemah dapat mempercepat kemerosotan ekonomi dan sosial.
Menurut Dalio, negara yang terlilit utang cenderung mencetak uang baru untuk membayar utang, yang kemudian memicu inflasi dan pelemahan nilai mata uang. Dampaknya termasuk penurunan standar hidup masyarakat, peningkatan ekstremisme politik, dan konflik sosial-ekonomi karena perebutan sumber daya yang semakin terbatas. Situasi ini biasanya memicu munculnya pemimpin populis yang menjanjikan stabilitas.
Dalio juga merinci lima fase kebangkrutan sebuah negara akibat utang berlebihan, antara lain negara tidak mampu lagi meminjam untuk membayar utang, pemerintah mencetak uang baru yang berujung pada inflasi dan pelemahan mata uang, penurunan standar hidup, meningkatnya ekstremisme politik, serta gangguan pada produktivitas akibat konflik pembagian sumber daya. Sementara itu, utang nasional AS yang mencapai lebih dari US$38 triliun atau setara 324 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mengkhawatirkan, menurut data Departemen Keuangan AS.
Dalio merekomendasikan solusi 3 persen untuk mengatasi krisis utang, yaitu menurunkan rasio defisit terhadap PDB menjadi sekitar 3 persen melalui kombinasi kenaikan pajak 4 persen dan pengurangan belanja pemerintah 4 persen. Langkah ini diharapkan dapat membantu memperbaiki dinamika penawaran-permintaan utang dan mendukung penurunan suku bunga.
