Harga minyak dunia mulai kehilangan tenaga setelah sempat melesat tajam, seiring pasar menangkap sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan akan adanya dialog membuat pelaku pasar sedikit menurunkan ekspektasi terhadap gangguan pasokan energi global, meski kekhawatiran belum benar-benar hilang.
Brent dan WTI Kompak Melemah
Dalam perdagangan Asia, harga minyak mentah Brent terkoreksi ke US$97,50 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke US$96,83 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pasar sebelumnya dihantui lonjakan harga akibat meningkatnya risiko konflik yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia.
Harapan Dialog AS-Iran Jadi Penahan Laju
Pasar mulai membaca adanya peluang pembicaraan antara Washington dan Teheran sebagai sinyal deeskalasi. Presiden AS Donald Trump menyebut Iran tertarik untuk membuat kesepakatan, pernyataan yang ikut mendorong optimisme bahwa tensi geopolitik bisa mereda. Namun, arah pasar masih rapuh karena belum ada kepastian bahwa konflik benar-benar menuju penyelesaian.
Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Rawan
Sebelumnya, blokade yang melibatkan militer AS terhadap Iran sempat memicu kenaikan harga minyak secara signifikan. Gangguan semacam itu dinilai dapat memengaruhi pasokan hingga sekitar 10 juta barel per hari, sementara jika blokade berlanjut, sekitar 3 hingga 4 juta barel per hari bisa terhambat. Dalam situasi seperti ini, Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena posisinya yang sangat penting bagi arus energi global.
Menurut laporan pasar yang dikutip dari sumber perdagangan komoditas internasional, pergerakan harga minyak saat ini masih sangat ditentukan oleh perkembangan diplomasi dan risiko suplai di kawasan Teluk.
