Pertamina Patra Niaga Mantapkan Infrastruktur B50 untuk Program Ramah Lingkungan
Pertamina Patra Niaga telah memastikan kesiapan infrastruktur blending dan distribusi B50 sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung program pemerintah dalam menggantikan bahan bakar kendaraan berbasis fosil dengan bahan bakar baru terbarukan. Program biodiesel B50 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto mengatur penggunaan bahan bakar solar ramah lingkungan dengan komposisi campuran 50% minyak kelapa sawit dan 50% solar fosil.
Proses Distribusi B50 yang Tepat
Direktur Optimasi Hilir & Distribusi Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, menegaskan bahwa Pertamina terus memperkuat kesiapan fasilitas dan infrastruktur untuk menjaga keandalan pasokan energi masyarakat. Dalam implementasi B50, Pertamina terlibat langsung dalam proses blending, penyimpanan, hingga distribusi bahan bakar jenis baru ini.
Pada tahap awal, bahan FAME diterima oleh Pertamina dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati melalui berbagai metode transportasi seperti kapal laut, truk tangki, dan pipa terminal Pertamina. Setelah proses penerimaan bahan baku selesai, Pertamina akan melakukan pencampuran (blending) FAME dengan solar melalui dua metode, yaitu sequential blending dan inline blending.
Infrastruktur Pendukung Distribusi B50
Pasca proses blending, Pertamina telah mempersiapkan infrastruktur New Gantry System di 11 lokasi di seluruh Indonesia untuk memproses pengisian B50 ke kendaraan atau tangki. Realisasi distribusi B50 pada rentang waktu 1 Juli hingga 20 Agustus 2026 mencapai rata-rata 73 ribu kiloliter per hari, meliputi 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh Pertamina, diharapkan program biodiesel B50 ini dapat berjalan lancar dan sukses dalam mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta memperhatikan keberlangsungan lingkungan.
