Anggapan bahwa mi instan dapat mengendap di lambung selama berhari-hari tidak sesuai dengan cara kerja sistem pencernaan manusia. Seperti makanan lain, mi instan akan bercampur dengan cairan dan enzim di dalam lambung, kemudian secara bertahap diteruskan ke usus halus untuk dicerna dan diserap.
Mi instan tidak menetap berhari-hari di lambung
Setelah makanan masuk ke lambung, organ tersebut tidak sekadar menyimpannya hingga seluruh proses pencernaan selesai. Makanan diolah menjadi bentuk yang lebih cair, yang disebut kimus. Lambung lalu mengosongkan isinya sedikit demi sedikit menuju usus halus.
Menurut Mayo Clinic, rata-rata makanan membutuhkan sekitar enam jam untuk melewati lambung dan usus halus. Sisa makanan kemudian bergerak ke usus besar dan dapat memerlukan waktu sekitar 36 hingga 48 jam sebelum akhirnya dikeluarkan sebagai feses.
Rentang waktu tersebut menggambarkan perjalanan makanan di seluruh saluran pencernaan, bukan durasi makanan berada di dalam lambung. Karena itu, klaim bahwa mi instan tertahan di lambung selama berhari-hari tidak tepat.
Durasi pengosongan lambung juga tidak sama untuk setiap orang maupun setiap jenis makanan. Cleveland Clinic menjelaskan, pemeriksaan pengosongan lambung pada makanan padat umumnya dilakukan hingga empat jam. Dalam kondisi normal, lebih dari 90 persen makanan padat yang diuji telah meninggalkan lambung dalam waktu tiga jam.
Pengolahan mi dapat memengaruhi pemecahan zat gizi
Meski tidak mengendap berhari-hari, karakteristik mi instan dan proses pembuatannya memang dapat memengaruhi pencernaan. Penelitian yang diterbitkan dalam Food Research International pada 2025 menemukan bahwa perebusan, pengukusan, dan pendinginan dapat mengubah struktur pati serta tekstur mi. Perubahan tersebut turut memengaruhi seberapa cepat pati dipecah oleh enzim dalam pengujian laboratorium.
Penelitian lain di Frontiers in Nutrition melaporkan bahwa proses penggorengan dalam pembuatan mi instan dapat memengaruhi struktur makanan serta menurunkan tingkat kecernaan pati dan protein dalam pengujian in vitro.
Namun, hasil pengujian di laboratorium tidak dapat langsung diartikan bahwa mi instan akan berada lebih lama di dalam lambung manusia. Kandungan lemak, ukuran makanan, cara memasak, komposisi makanan, serta kondisi sistem pencernaan seseorang juga berpengaruh terhadap proses tersebut. Karena itu, tidak ada patokan tunggal bahwa mi instan pasti dicerna dalam jumlah jam tertentu.
Pola konsumsi tetap perlu diperhatikan
Terbantahnya mitos tentang mi instan yang mengendap lama bukan berarti makanan tersebut dapat dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah dan pola makan. Mi instan umumnya tidak dirancang sebagai satu-satunya sumber zat gizi dalam menu sehari-hari.
Satu porsi mi dapat dilengkapi dengan sumber protein seperti telur, ayam, atau ikan, serta sayuran agar kandungan makanannya lebih beragam. Penggunaan bumbu juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Sejumlah penelitian pada populasi memang menemukan hubungan antara konsumsi mi instan yang lebih sering dan beberapa faktor risiko kardiometabolik. Namun, penelitian observasional semacam itu tidak serta-merta membuktikan bahwa mi instan secara langsung menyebabkan kondisi tersebut.
Dengan demikian, mi instan tetap mengalami proses pencernaan seperti makanan lainnya. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan dan menempatkan mi instan sebagai bagian dari menu yang beragam dan seimbang, bukan sebagai makanan utama setiap hari.
