Wacana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menekan suku bunga kartu kredit ke level maksimum 10 persen selama satu tahun memicu penolakan keras dari kalangan perbankan. Sorotan paling tajam datang dari CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, yang memperingatkan bahwa kebijakan itu bisa berujung pada “bencana ekonomi” jika benar-benar diterapkan.
Dimon: Pembatasan Bisa Mengganggu Akses Kredit
Jamie Dimon menilai pembatasan suku bunga kartu kredit bukan sekadar soal meringankan beban konsumen. Menurut dia, kebijakan tersebut justru berpotensi membuat akses kredit makin sempit bagi banyak warga Amerika Serikat. Dalam pandangannya, dampaknya bisa merembet ke daya beli masyarakat yang ikut melemah.
Ia juga menekankan bahwa efeknya tidak berhenti pada perusahaan kartu kredit. Sektor lain seperti restoran, ritel, perusahaan perjalanan, sekolah, hingga pemerintah daerah disebut ikut terdampak bila aturan itu diberlakukan.
Masih Kabur Soal Mekanisme dan Dasar Hukum
Kebijakan pembatasan suku bunga kartu kredit itu disebut akan mulai berlaku pada 20 Januari 2026. Namun, hingga kini belum ada penjelasan yang jelas mengenai bagaimana aturan tersebut akan dijalankan maupun dasar hukumnya.
Ketiadaan rincian itu membuat rencana tersebut makin banyak dipertanyakan oleh pelaku industri. Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar sempat bereaksi, sementara saham perusahaan kartu kredit ikut tertekan setelah usulan itu kembali mencuat.
Industri Perbankan Ikut Angkat Suara
Tak hanya Dimon, Asosiasi Perbankan AS juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Mereka menilai pembatasan suku bunga justru bisa mempersulit masyarakat dalam memperoleh pembiayaan dan berisiko merugikan jutaan keluarga serta pelaku usaha kecil.
Wacana ini pertama kali diusulkan Trump saat kampanye Pilpres 2024. Saat itu, gagasan untuk menurunkan suku bunga kartu kredit ke 10 persen langsung menjadi perhatian karena rata-rata suku bunga kartu kredit di AS saat ini berada di sekitar 20 persen. Informasi mengenai peringatan dari Jamie Dimon dan reaksi industri perbankan ini dilaporkan oleh sejumlah media keuangan di Amerika Serikat.
