Pada perdagangan Kamis, 23 Januari 2026, harga logam mulia, seperti emas, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dengan harga melebihi level US$4.900 atau sekitar Rp 82,4 juta per ons. Harga emas spot telah mencapai $4.917,65 atau sekitar Rp 82,7 juta per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup dengan kenaikan sebesar 1,6 persen di level US$4.913,4 per ons.
Beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga emas adalah ketegangan geopolitik yang berlangsung, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), dan harapan akan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Wakil Presiden Zaner Metals, Peter Grant, memaparkan bahwa faktor-faktor ini masih mempengaruhi tren de-dolarisasi dan meningkatkan minat investor terhadap emas.
Selain itu, dari segi geopolitik, Presiden Donald Trump mengumumkan negosiasi untuk memastikan akses AS ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Di sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan adanya peningkatan belanja konsumen di AS yang mendukung pertumbuhan kuartalan yang stabil. Diperkirakan bank sentral AS akan melakukan pemangkasan suku bunga dua kali pada paruh kedua tahun ini, sehingga minat terhadap emas semakin meningkat.
Tidak hanya emas, namun harga logam mulia lainnya juga mengalami reli. Platina mencapai harga tertinggi dengan kenaikan 4,6 persen ke US$2.601,03 per ons, sedangkan paladium menguat 3,3 persen ke level US$1.900,59 per ons. Harga perak juga melonjak ke rekor tertinggi US$96,58 per ons dengan fundamental yang kuat. Seluruh tren ini menunjukkan prospek yang positif bagi pasar logam mulia di masa mendatang.
