Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melaporkan bahwa defisit APBN per akhir Februari 2026 mencapai Rp 135,7 triliun, setara dengan 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meskipun dalam koridor APBN 2026, terjadi peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, APBN 2026 telah dirancang untuk mengakomodir pola belanja yang lebih merata sejak awal tahun, yang akan membuat defisit muncul lebih cepat. Namun, pemerintah memastikan bahwa kondisi fiskal masih sesuai dengan desain yang telah ditetapkan.
Dari sisi penerimaan, kinerja pendapatan negara pada awal 2026 menunjukkan tren positif, terutama dari sektor perpajakan. Pendapatan negara hingga Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun, atau 12,8 persen dari target APBN 2026. Realisasi tersebut meningkat 12,58 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk penerimaan perpajakan, jumlahnya mencapai Rp 290 triliun, meningkat dari periode sebelumnya. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 68 triliun.
Dari sisi belanja, realisasi pengeluaran mencapai Rp 493,8 triliun, sekitar 12,8 persen dari pagu belanja negara di APBN 2026. Realisasi ini naik 41,9 persen dari tahun sebelumnya. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat pertumbuhan ekonomi guna menjaga kinerja fiskal sepanjang tahun ini. Menteri Keuangan juga menyampaikan bahwa perang antara Iran, AS, dan Israel berpotensi memberikan dampak pada ekonomi RI, dan menjelaskan beberapa jalur rambatannya yang bisa menekan perekonomian nasional.
