Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai kemandirian energi melalui pengembangan bahan bakar nabati, terutama biodiesel dan bioetanol. Menurut Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, implementasi biodiesel di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dengan program mandatori biodiesel yang saat ini telah mencapai level B40 dan direncanakan akan meningkat menjadi B50 pada Juli 2026. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, terutama jenis solar.
Bambang menekankan bahwa Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia memiliki kapasitas produksi crude palm oil (CPO) yang besar, mencapai lebih dari 45 juta ton per tahun. Sehingga, Indonesia dianggap mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel secara berkelanjutan, bahkan dengan peningkatan mandatori ke depan. Selain biodiesel, pengembangan bioetanol juga memiliki potensi besar sebagai pengganti bensin. Indonesia memiliki sumber bahan baku bioetanol yang melimpah, seperti tebu, singkong, dan jagung, yang dapat dioptimalkan melalui ekosistem industri bioenergi nasional.
Bambang menyarankan agar pengembangan bioenergi dilakukan secara terukur dan terintegrasi untuk tidak mengganggu ketahanan pangan dan kebutuhan bahan baku industri lainnya. Pemerintah perlu menyeimbangkan antara kebutuhan energi, pangan, dan industri agar program bioenergi tidak memengaruhi harga pangan atau pasokan domestik. Dengan perencanaan yang tepat, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan biodiesel dan bioetanol tanpa merugikan sektor lain, melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi lahan, dan pemanfaatan bahan baku alternatif.
Bambang juga mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan regulasi pendukung, termasuk insentif bagi investasi di sektor bioenergi untuk memperkuat ekosistem energi domestik. Dengan sinergi kebijakan yang tepat, biodiesel dan bioetanol tidak hanya menjadi solusi energi, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika global.
