Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah memerintahkan penggelontoran 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional (Strategic Petroleum Reserve/SPR). Keputusan ini diambil menyusul langkah Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang akan melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat dari 32 negara anggotanya.
Trump mengungkapkan bahwa penggelontoran cadangan minyak tersebut dilakukan setelah harga minyak dunia meroket ke level tertinggi belakangan ini, serta adanya kekhawatiran terkait krisis energi. Konflik militer antara AS-Israel dengan Iran turut menjadi faktor pendorong utama di balik langkah ini.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi AS, Christopher Wright, menjelaskan bahwa penggelontoran minyak ini merupakan bagian dari upaya yang terkoordinasi oleh IEA bersama negara-negara anggotanya. Proses ini diharapkan akan berlangsung selama sekitar 120 hari, dengan pengiriman minyak mulai dilakukan pada pekan depan.
Cadangan minyak strategis AS disimpan di gua-gua bawah tanah di Texas dan Louisiana, dengan SPR menyimpan sekitar 415 juta barel minyak hingga pekan lalu. Meskipun AS dan IEA telah mengambil langkah ini, harga minyak global masih tetap tinggi. Pada pembukaan perdagangan, harga minyak mentah WTI naik hingga sekitar US$93,8 per barel, sementara minyak mentah Brent Crude mencapai sekitar US$99,1 per barel.
Situasi semakin tegang karena serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, menjadikan Selat Hormuz sebagai fokus utama perhatian. Ancaman blokade jalur energi vital tersebut oleh Iran bahkan membuat Trump mengancam dengan tindakan militer lebih keras. Meningkatnya risiko serangan terhadap kapal tanker menyebabkan banyak kapal menghentikan pelayaran, memperparah ketegangan di pasar minyak global.
